Kamis, 07 April 2011

Bukan Siti Nurbaya


Pagi yang Cerah di hiasi Mentari yang Bersinar indah. Pagi ini di Sekolah ku mengadakan rapat. Dan hal ini membuat beberapa jam mata pelajaran kosong. Aku yang senang melarikan diri dari jam mata pelajaran hari ini merasa hari ini adalah hari kebebasanku.
Dengan tak menunggu banyak waktu aku bergegas menuju ke belakang sekolah dimana tempat biasanya aku menghabiskan waktu yang bagiku membosankan. Sebelum menuju ke belakang sekolah aku telah lebih dulu menghubungi sahabatku, Tari yang kelasnya berbeda penjurusan dengan ku.
“Dor.... “ kata Tari dan Mega mengagetkanku yang sedari tadi menunggu kedatangan mereka.
”Tariiiiiiiiii....” kataku dengan nada kesal
”Maaf ’Bu... salah sendiri di tempat sepi begini kamu bengong entar kesambet setan penunggu pohon loh !!!” kata Tari dengan wajah yang begitu Ceria.
”Eh....Eh...Eh.... kok murung amat ’bu ada masalah apa? Cerita donk, kami kan sahabatmu!!! ” kata Mega seraya memegang pundakku.
”Ngga kenapa-kenapa. Emangnya kalau kita murung mesti ada masalah dulu ya? ” kataku meledek.
”Iya nih..Mega selalu aja menilai seseorang dari wajahnya. Belum Tentukan orang yang murung itu orang yang banyak masalah. Siapa tahu aja orang yang selalu tersenyum ceria yang memiliki segudang masalah...” Bela Tari.
Aku yang mendengar kata-kata Tari tiba-tiba merasa ada yang beda dari Tari. Namun semua tak tampak dari senyuman cerianya.
Seharian ini aku, Tari dan Mega telah puas berbagi cerita, suka-duka, canda dan tawa. Sungguh hari ini adalah Hari yang amat membuatku merasa berbeda.

Cintaku Di batas Senja

Kabut putih masih menyelimut di sepanjang jalan. Udara dingin masih tak henti menusuk tulang dan di ufuk timur mulai terlihat indahnya sang fajar terbit menyinar.
Telah kesekian kalinya aku berusaha untuk berangkat sekolah lebih awal tapi tetap saja… menyebalkan memang harus terjebak macet tiap harinya namun inilah salah satu kewajibanku sebagai pelajar yang memilih sekolah yang cukup jauh dari tempat tinggalku.
Begitu juga sesampainya disekolah. Aku harus selalu di sibukkan dengan tugas yang tak terhingga. Apalagi mulai saat ini aku harus mengikuti Bimbingan Belajar di sekolah karena memang ku akui nilaiku di bawah standar.
“Pulang sore lagi, pulang sore lagi. Padahal tubuhku merasa lelah sekali” keluhku kepada Dua orang Sahabatku,Ella dan Utami.
”Mau bagaimana lagi? inilah kewajiban kita sebagai seorang pelajar” sahut Ella di sertai anggukan Utami. Lama sekali ku rasa waktu berputar. Dan ketika jam sekolah berakhir. Begitu hendak keluar kelas HandPhone ku berdering.

Fathya hari ini kamu kerumah ya !!! ada acara perpisahan.
Esok Andre akan ke Bandung untuk melanjutkan sekolahnya
“Linda”


“Aduh... mengapa Linda baru memberitahukan aku sekarang? Padahal waktunya sudah tak dapat terkejar. Kalau ku tinggalkan Bimbingan Belajar ini??? Ah...” keluhku seraya melemparkan kaleng bekas minuman yang ada ditanganku.
Aku ingin sekali menemui Andre yang merupakan orang yang paling aku sayang. Tapi Bimbingan Belajarku juga teramat penting dalam kehidupanku. Aku bingung dengan apa yang mesti aku lakukan.